Silent Jealousy (2)

by marinamerona

Marina, 19 Desember 2010


Esoknya aku teringat.

Dahulu sekitar 2 tahun silam
melalui Y!M (juga), seorang sahabat pernah menyatakan bahwa perasaan dan pikirannya sudah sulit untuk lepas dari mengingat Allah, tidak ada tuhan selain-Nya.


***

Dengan kata lain..

“mulai sekarang kalau mau melakukan ini, keingat Allah.. mau berbicara ini, keingat Allah.. pokoknya kalau mau apa-apa, ingat Allah”

ironisnya.. saat dia menyatakan demikian, bukannya senang dia ‘ingat Allah’ aku malah merasa di-dua-kan dan kemudian dengan ringannya aku sampaikan “wah, aku jadi cemburu nih sama Allah”

dan día pun tertawa “hahaha, seharusnya kamu cemburu-nya sama aku donk..”

“he..?” kupikir dia bakal tersipu-sipu.. tapi nyatanya akulah yang berhasil dibuatnya heran, tidak mengerti maksud dari respon terakhirnya waktu itu.

***

Dan rupa2nya aku baru tersadar belakangan, bahwa aku telah salah memprioritaskan cinta. Dan ya, aku lebih mencintai sahabatku itu ketimbang mencintai yg seharusnya paling layak dicintai, “Allah”. Aku merasa Allah telah mengambil hati kekasihku, jadilah aku cemburu sama Allah.

Mengapa begitu lemah bila kehilangan cinta sang kekasih, sedang dirimu tak kau hiraukan meski jauh dari naungan cinta-NYA.

Astaghfirullah..

***

kini aku baru mengerti kata-kata nya pada waktu itu “seharusnya kamu cemburu-nya sama aku donk, bukan sama Allah..”

Dan benar saja, baru terasa sekarang.. pada sahabatku itu kini aku cemburu, karena aku merasa dia telah berhasil mengambil hati Allah LEBIH banyak daripada yang kubuat. Aku merasa terbelakang, aku merasa tertinggal.. sesak rasanya..

dan bukan pada sahabatku saja, tapi aku cemburu pada orang shalih lainnya. Mereka begitu gigih dan semangat dalam taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya hanya demi mendapatkan cinta dan perhatian dari Tuhan mereka. Mereka menganggap Tuhan-nya layaknya kekasih. Setidaknya begitulah pikir ku.

Aku kadang bertanya-tanya.. dengan ke’taat’an ku yang memble seperti ini kapanlah aku bisa seperti mereka?  dan bagaimana caranya? kadang air mata mengiring pertanyaan-pertanyaan ku.. aku cemburu pada mereka yang rela bersusah payah memperjuangkan imannya sehingga dapat perhatian ‘lebih’ dari Sang Maha Pengasih. Tentu saja kuharap cemburu ini tanpa disertai keinginan untuk mengurangi kasih sayang Allah pada mereka.

Ingin rasanya diri ini di kumpulkan bersama orang-orang yg dicintai-Nya juga. Maka itulah aku mulai berpikir untuk dekat-dekat dengan orang2 shalih untuk mencari tau bagaimana cara meraih cinta Allah tanpa merampas cinta Allah dari mereka.

layaknya seorang gadis jatuh cinta…

yang mencari tau apa yang disukai idola/kekasih nya, apa makanan kesukaannya, apa olah raga favoritnya, baju seperti apa yg disukainya, dan sikap yang bagaimana yang dapat mencuri perhatiannya…

dan ya.. akulah si pencemburu… aku merasa ‘hidup’ dengan kecemburuanku ini..

Cemburu yang belum bisa kujelaskan secara teori, namun ku harap aku bisa menguasai diriku sendiri dengan rasa cemburu yang tidak kurang dan bukan pula posesif.

Tiada rasa cemburu adalah tanda tak punya kasih sayang.
Dan aku tidak berharap menjadi seorang posesif karena bagiku posesif adalah keserakahan yang berkedok cinta, menganggap ‘memiliki’ sesuatu sepenuhnya padahal lahir dan matipun tidak membawa apa-apa selain iman pada-Nya

Advertisements