memories – cover stories

by marinamerona

Marina, 07 Mei 2010

mengenang..

persis setahun yang lalu, di tanggal yang sama..

hati ini telah mantap untuk mengamalkan salah satu perintah Allah,


and this is it..

the beginning of  ‘my cover stories’..

***

Berawal dari obrolan asbun (asal bunyi) bersama seorang sahabat ketika masih duduk di bangku SMP,

“Nanti kalo gue udah punya suami, baru berjilbab ah!”

Dan voila, celetuk asbun itu pun pastinya didengar Allah sang Maha Mendengar..

Eit..! tunggu dulu, bukan berarti kini saya telah bersuami lantas berjilbab, dan bukan pula kini saya berjilbab lantas telah bersuami..

Hanya saja, nampaknya Allah mempercepat proses nya, dengan mengirimkan beberapa wali-Nya untuk memperkenalkan pentingnya jilbab pada saya, dan pilihannya.. just take it or leave it..

hee.. subhanallah yah ^^

Haa, baik baik.. mari kita langsung ke inti ceritanya..

Awal-awal tahun pasca kelulusan SMU (sekitar tahun 2006) , Allah mempertemukan saya dengan seorang lelaki yang baru saya ketahui belakangan sedang ‘belajar’ memperbaiki kesehatan agama nya. Saya cukup rasakan bagaimana perubahannya sebelum dan ketika beliau mempelajari agama lebih dalam. Yang sebelumnya kami seringkali membicarakan hal yang tidak berarah, lambat laun pun perkataan beliau mulai semakin mengandung hikmah dan dakwah, diantaranya dengan mengenallkan jilbab/hijab, yang belum saya sadari bahwa itu adalah pakaian yang mulia untuk wanita.

Bagi saya yang waktu itu masih menganggap jilbab adalah suatu hal yang asing dalam kehidupan saya (padahal saya Islam sejak lahir looh T__T ) berbagai alasan saya lontarkan untuk ‘menolak’ paham pentingnya jilbab yang beliau sampaikan. Dan lama-lama muncul pula pikiran-pikiran ‘nakal’ seperti “ini orang ngapain sih suruh-suruh pake jilbab?? mau jadiin saya istrinya apa? emang kenapa kalo saya gak pake jilbab? huh.. berarti dia tidak menyukai saya apa adanya!”

Akhirnya.. muncul lah prasangka-prasangka yang menyalahkan bahwa beliau berteman dengan saya secara tidak tulus (duh, maaf yah sobat..sepertinya waktu itu mata, hati dan telinga saya masih tertutup rapat untuk berusaha memahami agama)

Dan masa pun terus berjalan, Allah kembali mempertemukan saya dengan orang yang sedang ‘belajar’ memperbaiki kesehatan agama-nya juga, dan kali ini.. beliau adalah seorang wanita berjilbab..! wanita yang juga sedang memperbaiki jilbab dan akhlak nya..

OK.. lets see how the things will be going..

Awalnya, saya dan wanita ini bukanlah apa-apa, hanya sering bertemu dalam komunitas jepang karena kami sama-sama penggemar jepang, bertegur sapa pun nyaris tidak. Tetapi Allah membuka tabir ini selapis demi selapis, tahap demi tahap..siapa sangka ternyata kami masih mempunyai hubungan keluarga?

Walau termasuk ‘keluarga jauh’ , semenjak mengetahui kami mempunyai hubungan keluarga, kami menjadi semakin dekat..dan sejauh ini pula, keluarga wanita ini cukup ikram pada keluarga saya.. mereka satu keluarga mengenakan jilbab, dan perlahan pun mereka mengenalkan pengalaman bagaimana rasanya berjilbab pada saya..dan wanita yang tak lepas dari bantuan family beliau ini pula yang turut menemani saya untuk belajar bersama mengenal jilbab lebih intern dan intensif..

Saya pun melalui masa-masa yang penuh arti untuk mengenal kebesaran-kebesaran Allah, dan mulai mengingat-ingat kembali pelajaran agama yang dulu saya abaikan ketika masih menjadi siswi sekolah.

Semakin terasa petunjuk-petunjuk yang Allah berikan dari berbagai penjuru, tentunya sepaket dengan beragam ujian fisik, materi dan hati. Dan kini.. insya Allah saya mulai memahami arti jilbab itu sendiri, perlahan pun saya mulai jatuh hati dengan sosok jilbab yang dijanjikan Allah sebagai solusi bebas nya wanita dari api neraka.

Insya Allah, walhamdulillah…

Beberapa waktu lalu sebelum memasuki bulan Mei 2009, berulang kali saya membicarakan tentang jilbab ditemani dengan perasaan harap-harap cemas pada sang mama, papa, dan kakak tersayang. Dan berulang kali pula saya menanyakan pendapat sang mama, bagaimana kalau anak dara satu-satunya ini mengenakan jilbab?

Bagi saya dan keluarga saya yang ber-status Islam tanpa pengorbanan, permintaan anak gadis untuk berjilbab pun masih menjadi sebuah fenomena penuh pertanyaan dibandingkan kabar yang menggembirakan. Karena yang kami kenal selama ini, ramai berjilbab karena sudah menikah, ramai berjilbab karena budaya, ramai berjilbab karena kemauan orang tua, atau ramai berjilbab karena kemauan suami. Kami tidak begitu mengenal alasan berjilbab karena kemauan Allah.. Tuhan Semesta Alam.

Lalu, anggota keluarga saya pun berulang kali mengembalikan pertanyaan pada hati nurani saya, dan saya pun mencoba menjawab dengan pemahaman yang saya dapat selama ini..

“apa sudah siap kamu berjilbab?”

Insya Allah… siap..

“kamu kan masih muda..”

Justru karena masih muda.. insya Allah, sebelum terlambat

“sanggup dengan segala resiko nya? bakal kepanasan, repot klo bepergian..dan lain-lain?”

Insya Allah, lebih baik sedikit repot dan sedikit kepanasan di dunia daripada di neraka yang panasnya 9 kali lebih dahsyat..
lagipula..toh, tidak mungkin bepergian sepanjang hari setiap hari, apa gunanya rumah?

“sanggup menerima pendapat-pendapat kritis dari mereka yang kontra dengan jilbab?”

Insya Allah, setiap pendapat mereka akan aku terima sebagai sarana belajar untuk tetap istiqomah..

“apa nggak takut kalau teman-teman kamu yang belum berjilbab jadi minder sama kamu?”

Insya Allah, aku nggak akan minder sebelum mereka yang minder duluan, dan aku harap suatu saat mereka akan paham dan cepat atau lambat ikut ‘hijrah’ bersama.. insya Allah..

“jangan sampe cuma ikut-ikutan temen aja..jadinya lepas-pakai..”

Insya Allah, akan selalu mengikuti jejak teman-teman yang punya pengaruh baik dalam agama, mohon do’a nya..

“awas ya kalau cuma untuk menarik perhatian ‘seseorang’..”

*DUASH~
diantara option-option statement yang membuat saya berpikir berulang-ulang untuk berjilbab… saya rasa yang terakhir adalah ancaman yang paling membuat gelisah, karena saya seringkali menemukan perasaan seperti itu dalam hati saya, dan tentunya seringkali membuat tekad saya goyah dengan sukses..

Bagaimana tidak.. jika saya berjilbab hanya demi menarik perhatian seorang pria yang notabene memang lebih menyukai wanita berjilbab, berarti saya telah mempertaruhkan kehormatan saya untuk pria itu. Terlebih lagi, ketika saya sudah menunjuk kan hey.. saya udah berjilbab looh..look at me, hey look at meee.. . Seakan berharap, dengan jilbab akan meraih cinta seorang makhluk yang menjadi pujaan hati, agar terlihat shalihah sehingga sang pujaan hati pun melirik..

akan tetapi nyatanya? sang pujaan hati itu pun tetap berpaling tak membalas pengorbanan jilbab saya. Hiii mau ditaruh dimana muka inii~, pastilah juga hati ini akan terasa sakit seperti ditikam-tikam.. no way noo waaay, saya tidak mau sakit hatii~!

Dan tentunya pemikiran seperti itu dipastikan menjadi pantangan yang luar biasa bagi saya untuk mengenakan jilbab.

Spontan, selama masih terlintas pemikiran macam itu, still bersikeras untuk “SAY NOOO to jilbab!!”

pokoknya gengsi tingkat tinggi deh jika sampai terjadi hal demikian.. “lebih baik mencegah daripada mengobati”  pikir saya waktu itu..

Tapi tunggu, mencegah apakah?? mencegah berjilbab kah??
lama-lama pun tersirat dalam pikir saya.. kenapa jilbab nya yang disalahkan?

Berarti dengan kata lain, saya lebih memilih mengabaikan perintah Allah demi mengedepankan ego saya??

Hari demi hari saya lalui.. jawaban demi jawaban saya cari, dan begitulah Allah membalik balikkan hati saya..

Sampai pada suatu malam saya menerima sebuah ‘sentilan’ , yang cukup membuat hati saya yang hampa menjadi hancur berkeping-keping (amboii..bahasanyoo..)

Pada saat itu, siapakah tempat yang paling sempurna untuk mencurahkan segala isi hati ini? sedangkan hari sudah sangat larut malam, waktu nya manusia menikmati waktu istirahatnya…

jadilah saya mencari tempat peraduan sembari mengais-ngais air mata. And once again, i found where Allah is.. yang tidak pernah tidur dan bersedia menjadi Pendengar yang Maha Sabar selama 24 jam penuh.

Sampai setelah itu saya memutuskan untuk tak peduli lagi terhadap ego yang menghasut hati ini. Sekilas tersadar bahwa.. rupanya hanya Allah-lah yang mampu membalas amal berjilbab saya dengan cinta-Nya yang tidak terbatas, bukan seorang makhluk yang saya elu-elukan sebagai pujaan hati itu… dan ketika saya menyadari hal ini, saya tak mampu lagi menahan air mata yang terjun dengan bebasnya di atas sajadah, mengingat susahnya hati ini menempatkan Allah sebagai pujaan hati yang seharusnya.. (entah perasaan macam apa waktu itu, subhanallah jika diingat-ingat…huhu)

“tolong ajari aku cara mengeluarkan kebesaran suatu makhluk dalam hati, dan menggantinya dengan kebesaran Allah saja..”

.

Hari hari menjelang tanggal 7 Mei 2009,

Tiba-tiba muncul semangat menggebu-gebu untuk menemani sang mama pergi ke daerah pusat perbelanjaan baju-baju. Sesekali kami mampir ke toko yang menjual jilbab, namun tidak mudah menemukan jilbab yang saya incar. Sesekali saya bertanya pendapat sang mama jilbab yang cocok jika saya kenakan. Namun banyak pula model jilbab yang tidak saya suka. Saya rasa kebanyakan jilbab yang saya temui di toko terlalu ‘modis’ dan ‘blink blink’ untuk saya. Terlebih lagi jilbab yang dijual masih tergolong mahal untuk kelangsungan hidup dompet saya pada waktu itu, hiks..

Semangat pun mulai goyah kembali.. “ya Allah, apakah belom waktunya..?” pikir saya penuh bimbang.

Sungguh.. saat itu belum ada teman-teman, kerabat-kerabat, sahabat-sahabat untuk ditanyai rekomendasi toko jilbab, karena sebenarnya saya merahasiakan bahwa saya sedang berpetualang dari toko ke toko untuk mencari jilbab yang kelak akan saya jadikan ‘seragam wajib’ selama bepergian bersama mereka. Hanya Allah yang tau, dan hanya mama yang bisa membaca gerak gerik saya.

Beberapa hari berlalu, dan setelah bolak balik ke toko jilbab, masih belum menemukan jilbab yang cocok sesuai selera dan isi dompet saya.. sampai akhirnya Allah menuntun saya untuk membuka lemari pakaian lawas saya, dan ternyata.. masya Allah.. ada beberapa pashmina bercorak simple dan beberapa baju yang bisa diakali menjadi sebuah tunik.

Dan ketika Allah mengatakan ‘kun fa ya kun’ …

Dengan pakaian seadanya dulu untuk menjaga aurat..

Dengan pakaian seadanya dulu untuk mulai memuliakan diri sendiri..

Dengan pakaian seadanya dulu untuk memenuhi perintah Allah yang satu ini..

Hari ini, pada tanggal 07 Mei 2009..

Marina resmi memantapkan hatinya untuk ber-hijrah..

Segala pujian hanya untuk Allah, yang mengatur semua ini..

Tidak bisa saya sebutkan satu persatu siapa saja yang Allah libatkan untuk mengenalkan jilbab pada saya secara langsung dan tidak langsung.. karena akan banyak sekaliii, tapi…

jazakumullah khairan katsira..

^__^

Semoga kasih dan rahmat Allah selalu menyertai kalian semua..

dan selamat bagi pedagang roti keliling langganan saya,
orang asing yang pertama kali melihat saya merona dengan ‘cover’ yang baru

:mrgreen:

Advertisements