Menjauh dan Mendekat

by marinamerona

Marina, 15 Agustus 2009

”  Saat ini kamu adalah apa yang kamu pilih “

kalo bahasa inggeris-nya..

” You are what you choose “


***


Semalem ber-chit chat dengan seorang kawan smp-smu di Y!M..

Eniwei.. sebelumnya mohon maaf yah, ingatan saya agak acakadut untuk menjabarkan seluruh pembicaraan kami, tapi..kira-kira begini lah inti dari pembicaraan kami semalam..
(thanks anyway to ‘itaj’ for inpiring :D)


Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan seorang dosen yang diajukan kepada para siswa-nya,
“untuk sharing nambah wawasan aja” katanya..

“ini tentang perkembangan teknologi
antara negara maju dan negara berkembang”

Menurutmu, kenapa negara-negara seperti Eropa dan Amerika sering menciptakan dan mengembangkan suatu teknologi yang me’mudah’kan manusia?

Sejak dulu, negara-negara tersebut ikut mengembangkan sebuah alat penyampai pesan, dari sandi morse dan sampai sekarang terciptalah internet.

Sehingga negara-negara Eropa dan Amerika menjadi golongan negara maju. Sedangkan Indonesia? sejak dahulu sudah ada pula sandi morse, bahkan sekarang pun kita bisa menikmati internet.

Lalu? apa bedanya? Kenapa Indonesia digolongkan termasuk negara yang (masih) berkembang?

Setelah ditelaah lebih jauh, dan mungkin ini adalah statement yang sudah tidak asing lagi bagi para peneliti yang meneliti perkembangan Indonesia dan negara lainnya. Bahwa…

“Daya konsumer Indonesia itu lebih tinggi ketimbang daya produsen-nya”

Sehingga bangsa Indonesia (istilah kurang halusnya) udah terlanjur manja. Selama ini kita hanya menikmati teknologi-teknologi yang notabene sudah diciptakan lebih dulu oleh negara-negara maju,

Tanpa berpikir…

“How to make this thing?”

“Bagaimana cara membuat yang seperti ini?”

Dan yang lebih ironi-nya lagi, bukan suatu yang aneh negara Indonesia kerap kali dijadikan ladang untuk menggelar lapak-lapak industri dari berbagai negara maju.
Because of what??
yah karena bagi si negara maju, Indonesia ini merupakan ladang empuk untuk berdagang disebabkan daya konsumer Indonesia yang cukup tinggi.

Lalu… sekarang apa solusi nya?

Untuk sekarang, sebagian dari kami (termasuk saya) yang menyadari hal ini hanya bisa berkoar-koar.
Kenapa bangsa Indonesia begini dan begitu?
Kenapa bangsa Indonesia nggak begini dan begitu aja?
Kami maunya bangsa Indonesia seperti ini, bukan seperti itu..

Muncul pertanyaan dan pernyataan menyalahkan negeri sendiri, tapi .. bisa jadi kita lupa bahwa kita sendiri merupakan bagian dari negeri ini.

Bukankah “sebelum merubah yang besar, ubah dari yang kecil dulu” ?

Bukankan “sebelum merubah orang lain, kita bisa mulai dari memperbaiki diri sendiri dulu” ?

Mungkin hal ini ada hubungannya dengan perihal kehidupan..

Ketika ‘ujian hidup’ datang.. ada 2 pilihan yang ditujukan pada seorang manusia : menjauh atau mendekatkan diri pada ‘Yang Memberi Ujian’ (ALLAH)?

Bagi saya yang sewaktu ‘ujian’ itu datang kepada saya, saya enggan memilih diantara 2 pilihan itu, namun saya lebih memilih berada di tengah alias ‘diam’ dengan dalih bersikap netral.. tidak menjauh, dan tidak juga mendekatkan diri pada ‘Yang Memberi Ujian’..

Namun belakangan saya disadari oleh berbagai situasi bahwa terlalu banyak diam itu tidak baik bahkan cenderung malas. Yap, saya rasa pengertian ‘netral’ versi saya agak salah tempat.

Awalnya saya me-MAKSA-kan diri ini untuk mendekat pada ‘Yang memberi Ujian’ (catat: dengan TERPAKSA) , suka ataupun tidak suka.
Heran kan? mau masuk surga aja harus terpaksa loh? haha.. tenang aja, anda heran, saya juga heran..

Namun lambat laun, ini menjadi hobby terbaru buat saya. Semangat dalam mempelajari agama yang saya anut-pun muncul dan alhamdulillah i’m feelin excite enough dengan tambahan-tambahan ilmu yang saya dapat untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dalam keadaan suka ataupun duka (insya Allah) :mrgreen:

Entah rasanya.. mulai muncul angan-angan yang indah kalau orang-orang di sekeliling saya ter-inspire sama agama-nya sendiri, respect sama agama, especially ISLAM..

Kadang orang yang beragama ISLAM-nya sendiri suka mengeluh, bahwa agama yang dia anut terlalu susah, banyak peraturan..

Sebenernya tidak, kawan.. peraturan di-buat bukan untuk membuat kita ini susah.. melainkan untuk membuat kita lebih ter-arah dan terjaga dari marabahaya..

Bukankah Valentino Rossi juga harus mematuhi peraturan lalu lintas ketika berada di jalan raya??
(Ada yang bilang  “se-mahir mahir nya pembalap, jika dia tidak mematuhi peraturan lalu lintas, akan celaka juga kan”??)

Mungkin akan saya ulangi, bahwa (belakangan ini) saya punya ‘angan-angan’ yang indah jika orang-orang disekeliling saya mempunyai respect (ber-akhlak) yang sebener-benernya terhadap agama-nya sendiri, especially Islam..

Kenapa?

Karena.. saya cinta damai, dan kedamaian yang sempurna hanya bisa di-capai dengan akhlak yang sempurna juga… Bagaimana ‘angan-angan’ saya tidak indah? jika saya dikelilingi oleh orang-orang  yang ber-akhlak sempurna minimal ber-akhlak baik..? (supaya saya bisa jadi ketularan baik-nya juga gituuuh) :mrgreen: hee..

EHem.. agak ngalor ngidul ya topik nya? hehe.. maaf lagi yah ^^; maklum nggak jago nulis…

Tapi..

” Sebelum merubah sesuatu yang besar, mulailah dari yang terkecil dulu, mulai dari diri sendiri… “

“mau mendekat? ato menjauh dari sumber ilmu itu sendiri?”

Semua nyambung kan??

hahay~ this is become more exciting..

Advertisements