Mata Kelinci

by marinamerona

ini..tulisan dah jebot juga yahh..uhuk..

Marina, 16 Mei 2009

HUaeeeyy kelinci loetjoee~

Kalian bisa gak memutar penglihatan sejauh 360 derajat

tanpa menggerakkan leher??

***

Dulu waktu saya nonton sebuah dorama (Jepang) yang berjudul My Boss My Hero, ada bagian yang cukup nyantol di ingetan saya. Sewaktu si tokoh utama memperhatikan seekor kelinci, dia diberitahu oleh seorang temannya bahwa kelinci itu mampu melihat memutar menjangkau 360 drajat meskipun kepalanya tidak digerakkan. (entah benerran apa skenario, entah deh…)

Makzudnyaa 360 derajat?

Tadinya saya pikir, jangkauan (penglihatan) 360 drajatnya itu hanya mencakup atas, bawah, kiri, dan kanan (kan klo bola mata diputer atas kiri bawah kanan jadi menjangkau bunderan 360 drajat, itu udah umum lah ya? sayah juga bisa itu mah..)Β  Lalu apa spesialnya mata kelinci itu??

Setelah saya menonton lebih lanjut..

Ternyata mata kelinci yang dimaksud di pelem ini adalah bahwa kelinci mampu mengenali situasi yang terjadi di sekeliling terdekatnya meskipun dia tidak melihatnya langsung. Mungkin semacam ke’peka’an tingkat tinggi kali ya?

Saya rasa..
Keahlian si ‘mata kelinci’ ini sepertinya bagus klo dipelajari dan ditiru,hee.. terutama untuk saya yang pilon terhadap lingkungan sekitar..

Dimulai dari belajar untuk mampu mengenali situasi.

Ets,Β  jangan situasi dulu deh… mungkin bisa dimulai dari mempelajari karakterisitik orang-orang sekeliling kita dulu. Kenali pribadi mereka, dengarkan cerita mereka, selidiki apa yang mereka suka dan apa yang mereka benci. Jangan melihat kekurangan saja, melainkan belajarlah untuk mengingat-ingat segala bentuk kebaikan dari orang-orang yang kita kenal.

Semua ini tentulah didasari dengan niat ber-komunikasi yang baik antar sesama manusia bukan?

Setelah itu, mungkin ada baiknya meng-evaluasi, intropeksi diri, dan mengenali diri sendiri. Ada yang bilang, jika kita tidak mengenali diri sendiri, kita tak kan bisa mengenali situasi dan lingkungan sekitar (eh, ini kata siapa ya?! lupa euy..)

Semua orang pasti ingin sekali disenangi dan dihargai (termasuk saya juga sih..). Namun, apabila kita tak bisa beradaptasi lantaran sifat yang bertentangan dengan lawan bicara, apa iya kita bisa disenangi dan dihargai kawan kita itu? apa bisa orang itu membuka telinga terhadap pemikiran kita?

Tapi bukan berarti kita harus beradaptasi dengan orang-orang yang sekiranya gemar berbuat maksiat kan ya..? hehe, masa iya kita jadi ikut-ikutan berbuat yang maksiat.. jangan sampe deh. Kalo bisa sih kita ‘jalan bareng’ menuju jalan yang lebih baik dan lebih lurus..ibaratnya, tobat bareng-bareng yuk? hehehe

Eh, daritadi saya ngoceh gak jelas ya alurnya? maaf-maaf, kayaknya ini tidak lain dan tidak bukan adalah mengeluarkan uneg-uneg semata..

Intinya, saya ingin sekali mempunyai keahlian seperti mata kelinci, yang peka terhadap lingkungan sekitar walaupun tidak menoleh sekalipun..

Karena, baru-baru ini saya menemukan fakta yang mengundang beberapa pertanyaan atas suatu pernyataan seperti “mengapa bisa begini dan
mengapa bisa begitu?”

Semuanya kembali lagi sejauh mana saya peka terhadap lingkungan sekitar.
Semakin saya berpikir ke belakang.. mungkinkah salah satu kuncinya adalah menjaga silaturahmi dan berbuat kebaikan terhadap sesama manusia?

Kadang saya berprinsip, saya tidak akan memutuskan tali silaturahmi kecuali ada yang ingin memutuskan tali silaturahmi dengan saya.. akan tetapi, sepertinya keadaan membuat terlihat seolah saya yang memutuskan tali silaturahmi itu sendiri..?

Wah.. harus beware nih….

Bingung ya apa hubungannya silaturahmi sama mata kelinci??

hehe..saya juga binun sebenernya .. πŸ˜†

maaf yaaw..

Advertisements