Pakaian Terbaik

by marinamerona

Marina, 08 Mei 2009

Ada yang punya pakaian terbaik?

Saya…
punya gak ya?

***

Semalam, malam Jum’at..
saya menonton sebuah acara di salah satu stasiun TV.


Acara yang mendatangkan salah seorang tokoh masyarakat sekaligus politisi yang kita sebut saja (berinisial) A.R , yang dimana pada tanggal 26 April ini telah bertambah umur (selamat ya Pak?)

.

Hehe.. tunggu dulu, klo ada yang mengira saya akan membahas tentang politik disini, anda bener-bener salah.

.

Dalam acara yang bertemakan “mengenal lebih dekat” sang tokoh yang diundang tersebut, ada satu segmen yang membahas kehidupan cinta sang Bapak A.R ini (ihiiy~ gak jauh-jauh, cinta melulu nih..)

Jadi..beliau ditanya, “Gimana sih kehidupan cinta bapak dengan istri bapak waktu sebelum menikah dulu?”

Singkat cerita, Bapak A.R ini bercerita.. bahwa dulu, beliau dan istrinya itu adalah teman main sejak kecil (alias tetangga). Pada waktu itu, Bapak A.R masih duduk di bangku SMU, dan istri nya masih duduk di bangku 4 SD. (aih.. Pak? suka cewek yang jauh lebih muda???)

Karena mereka bertetangga, mereka sering main petak umpet bareng. Namun ketika si bapak ini sudah beranjak menjadi mahasiswa di salah satu universitas ternama di Yogya, dia bilang..

“Yahh, bagaimana sih klo seorang lelaki bertemu wanita yang bikin ‘DEG’ (sambil memegangi dada), rasanya klo setiap bertemu dia bikin ‘DEG’, saya rasa pastilah itu cinta, dan wanita itulah yang sekarang menjadi istri saya”.

Lalu menikahlah mereka ketika Bapak A.R berusia 25 tahun dan sampai kini pun beliau sudah berumur 65 tahun, sepertinya masih terlihat saling mencintai ya.. (ya iyyalah, harus itu…)

.

Spontan saya yang menyaksikan beliau bercerita, langsung tersenyum-senyum malu.. 😳
(eett dah, kok jadi saya yang salah tingkah??)
ahahay bukan apa-apa, abisnya.. saya berandai-andai, orang jaman dulu itu polos-polos yah?? Beda rasanya sama ketika saya mendengar cerita cinta kebanyakan anak muda jaman sekarang yang berbelit-belit (eh marina~ gak merasa kaw?)

.

Lalu.. si pembawa acara berlanjut bertanya kepada si Bapak A.R

“Pak, menurut kabar, bapak dan istri menunggu kehadiran anak selama 10 tahun, dan akhirnya diberikan juga.. bagaimana itu ceritanya Pak?”

dan si Bapak A.R pun kembali bercerita,

“Ya, selama 10 tahun saya dan istri saya berusaha untuk mendapatkan momongan, sudah berkonsultasi dan berobat ke dokter-dokter di berbagai daerah, bahkan sampai ke California, dan yang terakhir Kairo-Mesir.”

“Lalu setelah dari Kairo, kami melaksanakan ibadah Haji ke Mekkah, dan di depan ka’bah kami berdoa : “Ya Allah, berikanlah kami anak-anak yang soleh dan soleha”. Dan alhamdulillah, bagaikan mukjizat yang diturunkan kepada kami, beberapa saat sepulang kami dari sana, istri saya langsung hamil anak pertama kami”

Lalu Bapak A.R ini melanjutkan intermezzo-nya,
“Saya merasa, anak adalah manusia yang dititip kan Allah kepada hamba-Nya. Seorang anak merupakan tamu Allah. Makanya itu, setiap istri saya melahirkan, saya pasti menuju ke rumah sakit dengan memakai setelan baju beserta jas saya yang paling bagus, karena ingin ‘menyambut’ tamu Allah,.. kecuali waktu si bungsu, saya cuma pake kemeja panjang aja, karena waktu itu saya gak nemu jas dan saya sedang buru-buru ke rumah sakit..hehehe”

Hyehee.. ‘pakaian terbaik’ sesuai profesi ya Pak?

“Dan alhamdulillah, selama 2 tahun, kami diberikan 5 anak laki-laki sekaligus..semuanya tumbuh dengan baik dan gak ada masalah, alhamdulillah, dan sekarang sudah menikah semua..”

. . . . .

. . . . .

huooogh~~~ Sungguh saya terkesima dibuatnya.. Di luar dari kehidupan politik si Bapak ini, mulai dari kehidupan cinta, ikhtiar mendapatkan anak, sampe menyambut anak-nya lahir ke dunia pun sayah nilai romantiss kuadrat~!

Huhu..wahay Bapak ganteng, pastilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tiada kah anakmu yang masih single??? TTuTT~ (hahaw, ngarep banget ih..)

***

Teriang-iang cerita si Bapak A.R sewaktu menyambut ‘tamu Allah’ dengan mengenakan pakaian terbaiknya..

Apalagi klo bertemu sama Allah ya? pastilah harus pake pakaian super duper terbaik yang hamba-Nya miliki.. setuju tak??

Kapan?

Emm.. entahlah, setiap saat sholat mungkin?

Masa klo pergi ke kondangan kita bisa sibuk rapih-rapih pleus wangi-wangi, tapi sewaktu memenuhi undangan Allah (adzan) kita malah males-malesan, bahkan mirisnya.. pake baju gembel pun tak apa?

Masa klo pergi ngantor kita bisa sibuk rapih-rapih pleus wangi-wangi, tapi sewaktu memenuhi panggilan si ‘Bos’ Allah (adzan) kita malah males-malesan, bahkan mirisnya.. pake baju gembel pun tak apa?

Masa klo diajak pergi ‘hang out’ bareng temen-temen kita bisa sibuk rapih-rapih pleus wangi-wangi, tapi sewaktu menerima ajakan Allah (adzan) kita malah males-malesan, bahkan mirisnya.. pake baju gembel pun tak apa?

Klo hal yang kecil seperti ini aja dilalaikan, tiadakah muncul pertanyaan?

“Sebenernya ‘tingkat’ derajat Allah ada di  bagian mana hati-mu? atas atau bawah?”

“Allah itu siapa sih? saya cuma tau, tapi belum kenal..”

“wah, sayang banget klo sampe gak kenal, Dia sangat love-able loh, mau dikenalin?”

“emm, boleh deh..”

.

Belakangan, kadang.. saya suka iri klo melihat pria-pria yang dengan lenggang kangkung nya jalan menuju masjid memakai (dresscode yang disukai Allah) berupa baju koko ato baju gamis yang rapih-rapih ‘n wangii (mengharumkan diri), tanda mereka ‘girang’ akan menemui Tuhan-nya.. ya? Apalagi setiap langkah mereka menuju masjid dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat mereka…

iri..
iri…

Tapi.. ternyata wanita punya porsi ke’girang’an-nya sendiri llooh klo memenuhi undangan dari Tuhan-nya…
yaitu yang lebih baik memelihara sholat-nya di rumah, di kamar nya sendiri, dengan mukena terbaiknya…
karena, pahalanya beberapa kali lipat dari pahala pria yang sholat di masjid, gicyuu…
eh, klo gak salah sih.. (tunggu, tunggu, saya lupak, perihal berapa kali lipatnya.. (;^^)> .. sepertinya saya masih harus banyak intip-intip ‘kamus hadits’ nih… o-hoho~~ maaf ye pemirsa yang budiman.. )


.)

).

Huff.. andaikan saya sudah bisa se’girang’ itu…

.

***

” Err.. marina, ini mukena nya apek ey? “

” nyuci-nya males ato jumlah mukena-nya minimalis sih? “

Advertisements