Happy Single ?

by marinamerona

Marina, 24 Maret 2009

sebuah lagu..
ternyata berpengaruh terhadap peneluran aspirasi (saya) ya..

***

Beberapa hari yang lalu, di salah satu saluran telepisi, tak sengaja saya mendengar dendangan lagu yang satu ini.. awalnya biasa saja, liat video klipnya pun saya tak bernafsu melirik. Tapi setelah menonton acara yang menampilkan ‘semua’ lirik lagu, kebetulan bintang tamu nya sang vokalis Oppie Andaresta yang sedang membawa single nya yang baru ini…

***

– Happy Single –

mereka bilang aku pemilih dan kesepian
terlalu keras menjalani hidup
beribu nasehat dan petuah yang diberikan
berharap hidupku bahagia…

aku baik baik saja
menikmati hidup yang aku punya
hidupku sangat sempurna
i’m single and very happy

mengejar mimpi mimpi indah
bebas lakukan yang aku suka
berteman dengan siapa saja
i’m single and very happy

mereka bilang sudah saatnya karena usia
untuk mencari sang kekasih hati
tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku
pada waktu dan cara yang indah

aku baik baik saja
hidupku sangat sempurna
i’m single and very happy

mengejar mimpi mimpi indah
bebas lakukan yang aku suka
berteman dengan siapa saja
i’m single and very happy

i’m single and very happy
i’m single and very happy
i’m single and very happy

***

Reflek… lagu ini membuat kuping saya membesar menyaingi kuping gajah. (berlebihan mode : ON)

Hahaha.. entahlah, sepertinya liriknya nyerempet saya sekali?  Beribu petuah diberikan oleh para teman, semata-mata menghawatirkan kalau-kalau saya jadi perawan tua? ahh.. terima kasih.. But just relax.. saya masih normal dan menyukai mahluk yang ber-gender pria 😆 .

Jujur, kadar kepedulian saya terhadap sebuah ‘status’ sangatlah minim. Status yang dalam arti kata ‘pacaran’ ini tidak terlalu mengena untuk saya. Dikala anak remaja menceritakan alkisah ketika mereka berpacaran, entah kenapa saya selalu menangkap cerita yang jelek-jelek nya sajah.

Contoh kasus, tak jauh dari teman saya, yang menghubungi saya hanya sekedar melacur (melakukan curhat) atau berdikusi tuk mencari solusi semata karena mereka ada problematika dengan kekasih-nya masing-masing. Tak jarang yang mereka sampaikan adalah part yang jelek nya dari dampak pacaran itu sendiri, semacam desperado tingkat tinggi jadinya.. Kadang saya suka bingung klo ditanya ” gimana ya na?  “ padahal saya sendiri nihil pengalaman pacaran, yang akhirnya saya hanya bisa bilang ” sabar ya.. “

Entah saya yang berlebihan? Tapi dari smua cerita mereka, cukup menoreh traumatis (ketakutan) yang membekas (alias terbayang-bayang) pada saya. Tanpa disadari, cerita demi cerita mereka telah membentuk dan memperkuat alert-system saya terhadap hubungan yang melelahkan se’macam’ ini, sehingga saya cenderung menjadi seorang wanita yang sangat selektif. Bahkan terlampau selektif ke arah subyektif.

Soale, klo mereka lagi adem ayem sama pacarnya, ya mereka gak nelpon sayah untuk melacur (melakukan curhat), jadilah saya kebagian cerita yang jeleknya sajah XD hahaha. Pertama.. itu sudah cukup membuat saya merasakan sejuta ragu untuk membina suatu hubungan yang disebut pa-ca-ran *uhuk

” jyahaha~ kasiaaaann de loou, gak pernah ngerasain pacaran “

oh helloou~.. entah kenapa kok saya tidak se-desperado itu rasanya?
Justru sekarang saya akan menjadikan ini sebagai suatu ke-bangga-an tersendiri kelak. Bukan berarti saya mempredikatkan diri sebagai ‘polos nan suci’ , justru saya cukup jauh dari ke-polos-an nan suci itu.

Yep, thats mean . .

Bukan berarti saya sepi pengalaman yang bikin dag dig dug kayak gini. Saya pun pernah merasakan indah nya jatuh cintah, ‘krupuk’nya cinta tak bertepuk, perhatian-perhatian manis dari si doi, perasaan harap-harap cemas yang tak berujung, bahkan perasaan ditinggalkan sudah beberapa kali saya rasakan (loh? kayaknya kebanyakan gak enaknya ya?) dan saya pikir cukup rumit dan melelahkan… cukup ahh jangan ditambah pacaran, klo putus nanti rasanya tralala trilili, hyuuk~

Lalu, semakin jauh hari saya lalui.. ke ‘enggan’an saya terhadap pacaran semakin menebal, mungkin.. langsung nikah aja x ya? (apakah ada pembaca yang langsung jungkir balik menangkap pernyataan saya ini? 😆 )

Dunno why? Bukannya saya kebelet nikah or something, tapi..  semakin saya mengenal agama, saya rasa inilah status hakiki yang paling dibutuhkan.. gak perlu sibuk bertarung dengan syaitonnirrojim dan sibuk mempertahankan norma-norma pra-nikah yang walhasil jadi nabung dosa dan makan ati (ketika ku memandang wajahnya), nye  he he.. (husyah..! pikiran macam apa ini)

Klo dipikir-pikir emang bener sih klo kata orang alim.. pacaran itu enaknya abis nikah.. ya?

Fufufu, single?
Berhubung saya penganut hidup santai, seperti di pantai…

Same as Oppie said .. I’m single.. and very happy, saya masih merasa sempurna dengan hidup yang saya miliki, tanpa pacar sekalipun.

I’m single and very happy. Then soon as possible.. i’m married and very very happy.. walking on moooore perfecto life..

Insya Allah, as i wish, as Allah will 😆

Pokoe saya masih yakin akan pepatahan..

” kalau jodoh pasti gak kemana, kalo gak jodoh pastilah kemana-mana ”

ikhtiar, sabar, lalu ikhlas sajalah, hee :mrgreen:

*duh, ngomong sih gampang banget yeee~~*

***

ini..
adalah sebuah pengakuan seorang Marina yang sangat subyektif..

waktu terus berjalan
tak bisa kuhentikan
kuinginkan yang terbaik untuk hidupku

aku baik baik saja
menikmati hidup yang aku punya
hidupku sangat sempurna
i’m single and very happy

mengejar mimpi mimpi indah
bebas lakukan yang aku suka
berteman dengan siapa saja
i’m single and very happy

. . .

. . .

mereka bilang sudah saatnya karena usia
untuk mencari sang kekasih hati
tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku
pada waktu dan cara yang indah

*ngeeeeng~*

Advertisements