Alirat Tersesat

Pada suatu hari, ketika adzan maghrib berkumandang..
suatu waktu ketika orang-orang masih disibukkan dengan canda tawanya..
dan saya, yang termasuk di dalam lingkaran orang-orang itu, entah sudah berapa kali melihat jam di ponsel secara berulang-ulang..

sebuah tanda kecemasan saya “sudah berapa menit saya menunda-nunda panggilan Allah?” sedangkan saya masih terjebak dalam sebuah lingkaran canda tawa..

Dan saya pun akhirnya memberanikan diri untuk berdiri..

suara saya pelan berkata “Maghrib dulu ah..” sambil berharap ada yang membalas “ikut donk..”
namun saya pun tetap berada dalam kesendirian saya.. seolah wajah yang lain berkata “nanti aku menyusul”..

OK, tidak masalah pikir saya.. dan saya pun berlalu untuk melakukan ritual mensucikan diri yang mahsyur dengan sebutan ber-wudhu..

masih dalam kesendirian, saya memasuki sebuah bilik mungil yang tidak pernah dihampiri kecuali oleh mereka yang ingin bertamu pada yang Maha Pencipta Alam Semesta..
saya hendak pakaikan tubuh saya dengan pakaian yang saya harapkan ini adalah pakaian takwa.. pakaian mulia yang paling sederhana yang saya kenal, sebuah telekung putih yang menutupi hampir seluruh lekuk tubuh saya..

tiba-tiba Allah mengirimkan saya seseorang, yang benar-benar menyusul saya ke bilik mungil..