Marina, 20 April 2009

ini bukan sinetron..
ini kisah nyata…

Dan saya suka hal-hal yang berbau ‘based on true story’..

***

Kali ini saya akan menceritakan alkisah seorang wanita yang panggil saja Fathimah. Atau mau lebih singkat, sebut saja Timeh.. begitu kalau orang betawi nyebutnya sih.. hee

***


Senin subuh…

Dering alarm pada HP menunjukkan waktu kurang lebih sekitar jam 4 subuh pun berbunyi. Timeh yang masih berada di perantara alam bawah sadar dan alam atas sadar (loh? udah sadar donk seharusnya?) kembali harus bertarung melawan syaiton yang suka membisikkan ” ahh, masih jam segini.. 5 menit lagi.. deh

Namun Timeh berhasil meng-enyahkan bisikkan tersebut setelah 15 menit nya. Timeh pun memaksa duduk sambil mata setengah tertutup. Dilihatnya kanan dan kiri, alhamdulillah.. ketiga orang yang disayanginya masih mendengkur.

Loh? kok malah bersyukur??

Lah iya… klo masih mendengkur, brarti masih bernafas kan?? yang notabene mereka masih hidup lha~

***

Lalu Timeh berpikir sejenak.

Hari ini mau shaum (puasa), tapi bukan shaum sunnah senin-kamis, ahh.. shaum ganti aja, utang tahun lalu dan tahun-tahun lalu-lalu nya seperti-nya belom lunas..

Timeh mengalihkan wajahnya kepada sang mama yang masih terlelap.
Ma.. ma… aku mau puasa, mau ikut gak?

Sang mama pun menyaut dengan mata masih tertutup.. ” emang ada makanan apa untuk sahur? lagi gak ada apa-apa, nggak dulu deh..

Masih ada roti 1 helai kalo gak salah.. ” Balas Timeh. Dilanjuti Timeh bertanya kepada sang papa.

Pa.. pa.. Timeh mau puasa, mau ikut gak?

nggg…. nggak dulu deh, hari Kamis aja… ” Sahut papa dari balik bantalnya.

Kak… kak… mau ikut puasa gak? ” Lanjut Timeh ke kakak nya.

aaa…. ngg…. aaa.. ” Layaknya orang yang tak kuasa bersuara dibalik rasa kantuknya. Entah kakak nya bilang apa, namun Timeh menyadari bahwa itu artinya adalah ‘tidak’.

Lalu Timeh kembali berpikir sejenak. Sempat terlintas rasa lega ketika masing-masing mereka menolak untuk sahur.
Kenapa? Karena Timeh yang khawatir, saat itu bahan makanan yang tersedia pagi itu  hanya tinggal 1 helai roti beserta mentega dan gula. Khawatir bahkan untuk diri sendiri saja tak mengenyangkan untuk menahan lapar seharian, apalagi dibagi untuk 4 orang ??

Lalu terlintas lagi sebuah pikiran ” Apa gak usah shaum dulu ya?

Setelah berkutat di antara ‘ iya dan tidak ‘ akhirnya Timeh memutuskan untuk nekat. Karena dia mengingat perkataan sang mama yang sebelumnya bercerita kepada Timeh bahwa persediaan makanan keluarga semakin menciut. Dengan mantapnya Timeh membulatkan niat untuk shaum, meski dia sadar bahwa hanya 1 perut tak membantu banyak untuk ‘mengirit’ stok makanan yang semakin hendak menipis.
Lagipula aku hanya akan menghabis kan 1 helai roti saja dan beberapa gelas air untuk hari ini, tidak lebih. ” Pikirnya.

Timeh pun ber-sahur ria dengan makanan yang hanya tersedia pagi itu (roti gula dengan beberapa gelas air) dengan ‘niat’ shaum ganti, mengaharap ridho dari Allah-nya. Mudah-mudahan…

. . . .

Siang ini, menu makanan keluarganya adalah sayur mayur dengan sambalnya, yang baru dimasak oleh sang mama bagi orang rumah yang tidak berpuasa.

Hari ini, Timeh ber-shaum ditemani dengan aktifitasnya seperti biasa.
Hingga tiba waktu antara dzuhur dan ashar, dimana sang mama dan papa mendapat undangan ber-silahturahmi ke rumah saudaranya dengan meninggalkan Timeh dan kakaknya di rumah.

Waktu ashar telah tiba, adzan dikumandangkan, pikiran tertegun akan bibir yang mulai dehidrasi. Segera bergegaslah Timeh mengambil air wudhu, untuk menyegarkan jiwa dan raganya yang kering, pikirnya..

Seusai sholat ashar, Timeh pun kembali berpikir dengan apa dia harus menghabiskan waktu sampai maghrib dan berbuka puasa? dikala semua aktifitas ia rasa membosankan, dia pun mencoba untuk berusaha melancarkan niatnya untuk membiasakan diri mengaji a.k.a membaca mushaf al-Qur’an (al-Qur’an dan terjemahan), semampunya…

Sedari bacaan yang dia tabung dari waktu sebelum-sebelumnya. Sampailah dia pada suatu ayat yang berbunyi..

… …..Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ” (QS : At-Taubah ayat 28)

. . . .

Timeh terhenyak…

Tertahan sampai ayat ini, Timeh pun tak kuasa menahan lelehan air yang keluar dari kedua belah matanya… Dengan segala imajinasi yang Timeh miliki, kali ini Timeh merasa diajak bicara langsung oleh Tuhan-nya. Ahh, sungguh, bahkan ini dirasa terlalu realistis untuk disamakan dengan suatu imajinasi atau suatu kebetulan.

Seolah semakin memperjelas bayangan Timeh akan kehadiran-Nya, yang perlahan (dengan menyedihkan) mulai dilupakan orang-orang.. bahkan oleh dirinya sendiri.

Allah.. seolah menjawab apa yang menjadi ke-khawatiran Timeh, walau Timeh ‘amat sangat gengsi’ mengakui memang ADA-nya rasa yang tersembunyi dibalik niat mengharapkan ridho Allah dari shaum-nya (yaitu meng-irit persediaan makanan dengan mengorbankan rasa laparnya). Namun Allah memang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati hamba-Nya.

Setelah menutup mushaf-nya, Timeh bangkit dari sajadahnya dengan perasaan yang penuh akan hiburan dari Tuhan-nya. Namun masih belum tau apa yang akan dia lakukan setelahnya.

Waktu menunjukkan kurang lebih pukul 5 sore. Terkadang, kandungan ayat yang barusan membuat Timeh terhenyak itu mulai melebur.. mungkin karena menahan lapar dan dahaga.

Tersayup-sayup kantuk.. berharap bangun-bangun sudah mendekati waktu maghrib dan mulailah Timeh berangan meneguk air kesukaan-nya, yaitu teh manis.

Belum saja Timeh terlarut dalam kantuknya, tiba-tiba bel rumah berbunyi.

Oh, mama dan papa Timeh rupanya. Mereka baru kembali dari undangan bersilaturahmi dari rumah saudaranya. Lalu Timeh buka-kan pintu rumah untuk kedua orang tua-nya masuk.
Dan Timeh pun kembali dibuat terhenyak…

Timeh mendapati papa nya membawa sekarung beras kurang lebih 20 liter, dan Mama nya yang membawa semangkuk gulai daging. Dengan girang sang Mama menyapa Timeh..

Timeeh~ ini mama bawa oleh-oleh, hari ini kita makan daging.. ” canda si mama.

Haa?? kok bisa ma? dari mana??

Jadi gini, tadi kan mama mau pamit buru-buru pulang sama tante dan om, karena Timeh kan puasa dan mama belom nyiapin makanan berbuka buat Timeh. Eehh.. si tante malah nitip makanan ini, buat Timeh berbuka puasa katanyaa.. alhamdulillaah ” jelas si mama sambil nyengir.

Ww-waa..?? a-alhamdulillah donk ma… ” shock Timeh mode : ON..

Lalu Timeh pun berganti bertanya kepada sang papa..

Nah, pa? itu kenapa ada sekarung beras gitu??

Ya.. ini dikasih sama om. Kebetulan, sawah-nya si om lagi panen, jadinya dia lagi bagi-bagi beras..

Subhanallah, Allahu akbar, masya Allah, astagfirullah, alhamdulillah… rasanya hampir semua bentuk dzikir yang Timeh tau, ia utarakan di dalam hatinya.

Di samping beberapa rejeki yang didapat menjelang maghrib ini, Timeh LEBIH terusik akan sesuatu yang lain…

YA…

Kandungan ayat suci Al-Qur’an yang baru ditemui-nya sewaktu ngaji di waktu ba’da (setelah) ashar tadi.

Timeh .. ia sebisa mungkin menahan rasa haru biru-nya dihadapan keluarganya. Akhirnya, dengan suara menahan tangis dia menyampaikan berita gembira kepada keluarganya bahwa ” Maha Benar Allah dengan janji-Nya, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya “, bagi orang-orang yang berpikir..

Dengan nikmat-Nya Timeh berbuka puasa, ditemani keluarga tersayang-nya. Dan melaksanakan sholat maghribnya dengan penuh rasa syukur akan nikmat karunia dan nikmat iman yang diberikan-Nya hari ini.

. . . .

Belum selesai sampai disini…

Para sahabat Timeh bertanya.. ” Sudahkah Timeh bersyukur?

Lalu Timeh bertanya ” Adakah cara bersyukur yang lebih baik daripada yang kulakukan barusan?

Para sahabat Timeh kembali mengingatkan Timeh yang sungguh pelupa..
Hayyo.. ada 3 cara bersyukur, apa saja itu? Timeh ingat?

Aku tau caranya, tapi sungguh, aku adalah orang yang cepat lupa.. ” Timeh pesimis.

Di akhir cerita, dengan bantuan para sahabatnya, Timeh pun mengingat kembali 3 cara jitu untuk bersyukur , dengan…

Menyadari bahwa Allah-lah si pemberi nikmat tersebut, dari Allah-lah berasal semua nikmat itu. Mudah-mudahan dengan menyadari hal ini, kita bukanlah manusia yang lalai akan mengingat Tuhan-nya.

Lalu mengucap ‘alhamdulillah’, terima kasih ya Allah, dan.. jangan lupa berterima kasih pula kepada si penyalur nikmat Allah itu, (bagi Timeh hari itu) yaitu om dan tante-nya Timeh. Karena pada dasarnya manusia diwajibkan untuk menjaga habluminallah (hubungan antar Allah) dan habluminannas (hubungan antar manusia).

Dan Timeh kerap kali melupakan hal yang ke-tiga ini, yaitu melakukan apa yang diminta oleh si Pemberi Nikmat. Timeh tidak mau berulang kali dianggap manusia yang lalai ber-balas budi terhadap Allah-nya. Mungkin kali ini Timeh akan memulai meng-organisir kegiatannya untuk melakukan apa yang Allah minta…

Mungkin bisa dimulai dari bersedekah dari apa yang Timeh ‘dapat’ pada hari ia mendapatkan nikmat itu. Timeh teringat Allah sangat menyukai para hamba-nya berbagi nikmat kepada kaum fakir dan sesama kaumnya, lalu… Timeh akan kembali mencari tahu apa yang dapat menyenangi si Pemberi Nikmat itu… mudah-mudahan Timeh menjadi golongan orang-orang yang mengerti…

Dah… selesai…

. . . .

hee.. pasaran kah ceritanya?
klo iya, maaf deeh..
(^^)>

eh, tapi beneran lhoo~ ini kisah nyata yang menggembirakan menurut sayah.. fufufu.. semoga dapat menambah ‘respect’ kepada siapa Yang Menciptakan kita yahh ^^~

Dan terima kasih sudah mau membaca, kawan.. :mrgreen: