. . . . gami
by marinamerona
Marina, 28 november 2008
Tiada kata telat
(bagi saya) untuk bersuara, he he he
***
Menerawang tulisan kawan saya yang satu ini, terlintas suara-suara hati kecil sayah. Saya rasa sudah banyak wanita hebat yang memberi suara lebih bijak daripada suara saya ini, tapi .. boleh doonk saya ngoceh di tempat saya sendiri, hehehe *gatel nih..*
Straight to the point aja deh, singkat kata :
..saya gak menentang ajaran poligami [ apalagi yang TIDAK didasarkan nafsu belaka ], karena biar bagemanapun, itu lebih terhormat dibanding selingkuh ato berjina dengan yang bukan hak-nya [ na'udzubillah, klo ini mah..wanita mana yang tidak lebih sakit hati, hoho ]
Jangan dustakan ayat-Nya, tapi jangan lupa pula ‘konsekuensi’ yang berlaku, he he he [ denger-denger wanita yang ikhlas di poligami karena Allah SWT itu udah 'dapet' tempat di surga? dan klo pria yang tidak bisa berlaku adil pada istri-istri nya itu akan 'berjalan miring' di akhirat nantinya?? ]
Maaf klo salah [ dibenerin ya klo salah ], tapi kedua konsekuensi [ yang saya ketahui itu ] saya rasa amat sangat beraat dan tentunya pihak-pihak yang bersangkutan membutuhkan kadar iman yang expert dan excellent untuk menjalankannya [ dan 'kadar iman' itupun hanya Allah yang tau, betul? ] ..biarlah itu menjadi urusan mereka masing-masing dengan yang Maha Tahu.
Jadi..? untuk yang mendustakan ayat-Nya baik dengan disadari atau tanpa disadari..open minded saja kawan, i think maybe thats the best way dibandingkan menggugat
sesi curhat dibuka :
Saya pribadi termasuk wanita yang ingin menjadi ‘wanita yang tidak mau dimadu’ [ trying for do the best as housewife ], dan juga sebisa mungkin sangat menghindari menjadi ‘penyebab’ daripada wanita lain dipoligami.. insyaAllah..
” daripada saya menjadi penyebab wanita lain di poligami [ a.k.a menjadi istri kedua atau selanjutnya ] , lebih baik saya meng’islamisasi’ pria lain yang berniat menyunting saya, hahahaw ” ah, tapi kayaknya saya sendiri yang masih butuh islamisasi deh…
Ini isi hati saya, tapi.. kehendak yang Maha Menentukan siapa yang tau? Daripada pusing, let it flow sajalah bebih, do your best for ur sake of eternity life.. belajar ikhlas dulu aja dah, ha he ho..
Pokoe! sebaik-baik suami itu salah satunya adalah yang juga bisa mengerti dan menjaga perasaan istrinya dengan fitrah umum yang sudah mereka miliki.. Betul (calon) bapak-bapak??
hee
*** Oia, ada sedikit cerita nih ***
Tentang salah satu Guru di sekolah saya yang sampai saat ini belum menikah. Guru saya yang satu ini wanita, dan saya rasa dia udah cukup memasuki fase ‘krisis umur’ untuk menikah. Dia cukup cerdas [ klo nggak ya gak mungkin jadi guru lah ya? ], wanita mandiri, pandai bergaul dengan murid-muridnya, dan berjilbab tentunya [ secara sekolah Islam yah ]. Saya tidak tahu alasan dia belum menikah sampai saat ini, wallahu alam deh.. [ eh, apa jangan-jangan udah nikah sekarang? kok saya gak dapet undangannya ye? hehe *ngarep* ]
Pada suatu hari yang sudah lalu-lalu,
dia pernah dilamar oleh seorang pria. Seorang pria yang cukup umur, mapan, se-iman, namun dia sudah ber-istri. Yep, dengan kata lain guru saya yang satu ini hendak di poligami~!
Catatan: inget ya, jangan negatif thinking dulu sama pria yang satu ini, karena saya hanya akan menceritakan dari segi pandangan guru saya. Biar bagaimana pun, pria ini lebih terhormat dibandingkan meminta guru saya ini untuk menjadi ‘istri tersembunyi’, khukhuhu
Ketika sang Ibu Guru dilamar, si pria pun menjelaskan keadaan nya bahwa dia telah ber-istri, sudah mendapat ijin dari istri terdahulu dan menyatakan mampu menghidupi 2 keluarga. Namun Guru saya menolak lamarannya.
“ Loh, kenapa Bu? ” pertanyaan spontan dari salah satu murid yang mendengar cerita si Ibu Guru ini.
Lalu sang Guru pun bercerita, pada saat itu dia berkata pada sang pria yang hendak melamarnya itu, ” Maaf pak, saya bukannya anti-poligami, saya orang yang ber-agama sama dengan anda, dan cukup memahami hukum-hukum poligami. Lain hal nya apabila saya menjadi istri pertama yang ikhlas dipoligami, saya lebih ikhlas dengan adanya jaminan syurga. Tapi apabila saya menjadi istri kedua, dan tanpa disadari melukai hati istri pertama bapak dan hati saya sendiri, saya takut akan neraka dan akan dihantui perasaan bersalah selama menikah dengan bapak.” [ semoga saya nulisnya gak kurang dan gak lebih ]
*** Cerita selesai ***
Wowow.. saya rasa secara tidak langsung, dia menyatakan serta bentuk ke-’hati hati’an beliau untuk segala resiko ber-poligami, entah deh..khikhikhi. Well.. penolakan yang cukup bijak saya rasa.
Dari segala kekurangan dan kelebihan cerita beliau, saya mengutip sebuah pelajaran bahwa ternyata bukan pria saja yang harus extra hati-hati dengan hukum dan syarat-syarat poligami yang berlaku, melainkan para wanita juga harus extra telaten dalam memikirkan dampak baik buruknya. Betul begitu? hee
Intinya, wanita yang tabah dari berbagai macam sisi adalah wanita yang hebat.
Sip, cukup sekian dan terima kasih ah.
***
Akhir kata . . . .
Silahkan melengkapi judul post ini sesuai ke’ingin’an anda.
***
sya lalalaa~ *lempar tangan sembunyi batu* [ eh tebalik ya? ]

Salut banget sama gurumu ituh. Emang perlu extra hati-hati untuk urusan yang satu ini, apalagi klo tanggung jawabnya langsung ke atas…uhuhuu…
Lha kok tulisannya gak nyambung banget sih sama judul?? Itu kan judulnya “Origami”, kok malah ngomongin guru seh…
Btw, asal jangan sampe menggugat ayat-Nya, karena tidak mau dimadu memang fitrah kita semua…
baru sempet baca neh, tp oke deh… komentrnya singkat aza… silahkan, bagi yg brani (mati…:) )